kesusahan dan kepayahan yang dilalui selalunya memberi makna yang lebih berkesan pada diri kita. Selalunya melahirkan insan yang lebih berdikari, lebih tahan dengan cabaran hidup, susah untuk mengata tidak sebelum berusaha, dan lebih penting menjadikan diri hamba yang bersyukur.
dari pemerhatian, orang yang melalui banyak perkara sewaktu dia membesar lebih mudah untuk meraikan kepelbagaian jenis manusia dari pelbagai latarbelakang. Maka marilah tingkatkan pengalaman dan banyakkan bergaul dan cuba mengenali orang sekeliling, ia banyak membentuk peribadi diri kita.
ayuh, membina diri lebih matang!
Monday, August 13, 2012
Saturday, July 21, 2012
about limitation and faith.
"Pushing us to our limits is always His job.
Having patience until the end is our job.
For the dream to be real is His and our collaboration."
Don't stop now, Nadiah!
Stay optimistic! :) ♥ ~sakinah kamil
Having patience until the end is our job.
For the dream to be real is His and our collaboration."
Don't stop now, Nadiah!
Stay optimistic! :) ♥ ~sakinah kamil
lembaran baru,mungkin
blog ini bertukar wajah sekali lagi
mungkin, hamparan minda saya juga berubah sejak dua menjak ini.
menghela nafas..saya gemar menulis kerana ia adalah terapi
saya gemarkan nilai dan keunikan dalam menulis
maka blog ini bukan lagi sekadar helaian tempelan lakaran tulisan
saya mengangkatnya sebagai lembaran pentas untuk berkarya dan berseni
sesuatu yang berharga,mungkin
sesuatu yang akan terus menjadi inspirasi,membakar lilin-lilin semangat untuk menemani diri.
terima kasih kerana sudi bertandang ke sini
sebuah karya.
nilainya tinggi buat saya
tidak pasti apa ertinya buat anda.cuma,hayatilah~
mungkin, hamparan minda saya juga berubah sejak dua menjak ini.
menghela nafas..saya gemar menulis kerana ia adalah terapi
saya gemarkan nilai dan keunikan dalam menulis
maka blog ini bukan lagi sekadar helaian tempelan lakaran tulisan
saya mengangkatnya sebagai lembaran pentas untuk berkarya dan berseni
sesuatu yang berharga,mungkin
sesuatu yang akan terus menjadi inspirasi,membakar lilin-lilin semangat untuk menemani diri.
terima kasih kerana sudi bertandang ke sini
sebuah karya.
nilainya tinggi buat saya
tidak pasti apa ertinya buat anda.cuma,hayatilah~
sebuah karya Salim A. Fillah
bismillah..
saya amat menyukai karya ini. fahamilah intipatinya, seakan tepat menggambarkan apa yang dibenak fikiran saya.
saya kongsikan untuk anda semua, sangat bernilai buat diri saya.
http://salimafillah.com/karena-ukuran-kita-tak-sama/
saya amat menyukai karya ini. fahamilah intipatinya, seakan tepat menggambarkan apa yang dibenak fikiran saya.
saya kongsikan untuk anda semua, sangat bernilai buat diri saya.
http://salimafillah.com/karena-ukuran-kita-tak-sama/
Karena Ukuran Kita Tak Sama
seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya
memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti
memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan
kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi
Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.
Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,
“Masya Allah” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!”
Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab.
”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya,
“Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!”
Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras.
”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya. Aku takut Allah akan menanyakannya padaku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai ‘Utsman!” ’Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya bersiponggang menggema memenuhi lembah dan bukit di sekalian padang.
“Masuklah kemari!” seru ‘Utsman,“Akan kusuruh pembantuku menangkapnya untukmu!”.
”Tidak!”, balas ‘Umar, “Masuklah ‘Utsman! Masuklah!”
“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah unta itu akan kita dapatkan kembali.“
“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau hai ‘Utsman, anginnya makin keras, badai pasirnya mengganas!”
Angin makin kencang membawa butiran pasir membara. ‘Utsman pun masuk dan menutup pintu dangaunya. Dia bersandar dibaliknya & bergumam,
”Demi Allah, benarlah Dia & RasulNya. Engkau memang bagai Musa. Seorang yang kuat lagi terpercaya.”
‘Umar memang bukan ‘Utsman. Pun juga sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki.
‘Umar, jagoan yang biasa bergulat di Ukazh, tumbuh di tengah bani Makhzum nan keras & bani Adi nan jantan, kini memimpin kaum mukminin. Sifat-sifat itu –keras, jantan, tegas, tanggungjawab & ringan tangan turun gelanggang – dibawa ‘Umar, menjadi ciri khas kepemimpinannya.
‘Utsman, lelaki pemalu, anak tersayang kabilahnya, datang dari keluarga bani ‘Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman sentausa. ’Umar tahu itu. Maka tak dimintanya ‘Utsman ikut turun ke sengatan mentari bersamanya mengejar unta zakat yang melarikan diri. Tidak. Itu bukan kebiasaan ‘Utsman. Rasa malulah yang menjadi akhlaq cantiknya. Kehalusan budi perhiasannya. Kedermawanan yang jadi jiwanya. Andai ‘Utsman jadi menyuruh sahayanya mengejar unta zakat itu; sang budak pasti dibebaskan karena Allah & dibekalinya bertimbun dinar.
Itulah ‘Umar. Dan inilah ‘Utsman. Mereka berbeda.
Bagaimanapun, Anas ibn Malik bersaksi bahwa ‘Utsman berusaha keras meneladani sebagian perilaku mulia ‘Umar sejauh jangkauan dirinya. Hidup sederhana ketika menjabat sebagai Khalifah misalnya.
“Suatu hari aku melihat ‘Utsman berkhutbah di mimbar Nabi ShallaLlaahu ‘Alaihi wa Sallam di Masjid Nabawi,” kata Anas . “Aku menghitung tambalan di surban dan jubah ‘Utsman”, lanjut Anas, “Dan kutemukan tak kurang dari tiga puluh dua jahitan.”
Dalam Dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi.
Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.
Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat tulus pada saudara yang sedang diberi amanah memimpin umat. Tetapi jangan membebani dengan cara membandingkan dia terus-menerus kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz.
Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat pada saudara yang tengah diamanahi kekayaan. Tetapi jangan membebaninya dengan cara menyebut-nyebut selalu kisah berinfaqnya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf.
Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat saudara yang dianugerahi ilmu. Tapi jangan membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai bahawa Ibrani dalam empat belas hari.
Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat seperti tokoh lain pada masa yang berbeda. ‘Ali ibn Abi Thalib yang pernah diperlakukan begitu, punya jawaban yang telak dan lucu.
“Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan ‘Umar” kata lelaki kepada ‘Ali, “Keadaannya begitu tentram, damai dan penuh berkah. Mengapa di masa kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaanya begini kacau dan rusak?”
“Sebab,” kata ‘Ali sambil tersenyum, “Pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar, rakyatnya seperti aku.
Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”
Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”
Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan menuntut orang lain berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, “Utsman atau ‘Ali.
Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’d ibn Abi Waqqash melakukan peran Abu Bakar, fahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti.
Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah.
Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.
Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima bahwa sudut pandang orang lain adalah juga sudut pandang yang absah. Sebagai sesama mukmin, perbedaan dalam hal-hal bukan asasi
tak lagi terpisah sebagai “haq” dan “bathil”. Istilah yang tepat adalah “shawab” dan “khatha”.
tak lagi terpisah sebagai “haq” dan “bathil”. Istilah yang tepat adalah “shawab” dan “khatha”.
Tempaan pengalaman yang tak serupa akan membuatnya lebih berlainan lagi antara satu dengan yang lain.
Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita pahami, itu tidak seharusnya membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya.
Imam Asy Syafi’i pernah menyatakan hal ini dengan indah. “Pendapatku ini benar,” ujar beliau,”Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, namun bisa jadi mengandung kebenaran.”
sepenuh cinta,
Salim A. Fillah
Tuesday, July 17, 2012
meneduk air nan sejuk
benarlah kata orang
adakala seketika perlu duduk menghela nafas,
mencari rasa tenang
dan muhasabah
dan berfikira
benarlah
tidak ada siapa mahu terus merasa lemah dan berduka resah
hanya adakala kembali menyorong nilai manusiawi nan kerdil dan lemah disisiNya
saat mana pun manusia melihat diri lemah
atau seakan memandang enteng asal pedih menjengah
atau boleh kukata,
saat mencari kekuatan diri mengharung dan memahami erti pemberian sebuah ujian dariNya
dan aku berterima kasih pada yang tidak lekang memberi sokongan, menjadi tempat memahut diri
benar kata orang
kebanyakan waktu kita tidak akan mampu hidup seorang, selubung sendirian
walau untuk menghijab kelemahan dari seluruh manusia
aku menolak tafsiran itu
seakan bila berbicara masalahmu, ibarat kamu mempamerkan kelemahan
dengar,mari sini aku berbicara...
ingatkah mengapa harun didatangkan untuk Musa
apakah lemah Musa sendirian
apakah lemah Musa resah memikirkan kelemahan dirinya berdepan si Firaun
lemahkah seorang pejuang Allah
andai dia meminta teman untuk bersama menguatkan dirinya
di saat-saat dia lemah..untuk melangkah seorang diri..
tidak pernah salah merasai saatnya rebah..
kerana selalunya itulah titik bermula kisah baru denganNya..
benarlah
di saat kamu rebah
carilah suatu waktu untuk duduk bermunajat..muhasabah
mencari saat semangat kembali dihirup
ingatkah kamu saat Nabi mengharungi waktu kesedihannya
lantas dibawa 'berkelana' di langit tujuh dalam isra' mikrajnya
dan langkah baginda kemudiannya lebih tangkas dan jitu berbanding sebelumnya..
betapa cantik perjalanan sebuah perjuangan
dan kamu.
dan aku.
kita pun meniti saat yang sama..
meneduk air nan sejuk
membawa semangat baru
bagai sejuk tulang-tulangmu
hadir ke dalam hati ibarat dirimbun salju
maksud aku,
ketenangan
hadir membawa semangat baru
bila kau duduk mencari sedetik waktu buat dirimu
rasai semula bait-bait rindu pada Allah yang suatu ketika dahulu syahdu kau alun
memberi waktu untuk kamu bersyukur
walau dalam segala kekalutan mahupun dugaan yang menimpa
Allah tahu, kamu mampu.
bahu yang memikul
kutahu berat menanggung
namun Allah lebih tahu
Dia bekalkan kamu seribu kudrat untuk bertarung
walau seakan rebah
disaat itu Dia menyambut dengan seribu nikmat yang ditaburkan kembali untukmu
disaat itu Dia makbulkan doa-doaMu
disaat itu Dia tidak pernah sesaat tinggalkan kamu
benar hidup ini hanya sedetik cuma
bukan karya terbesar adalah derita dan mehnah yang menimpa
maka bersyukurlah, masih banyak ruang untuk bercerita gembira
masih ada hela nafas untulk berbicara
benar hidup ini juga adalah perjuangan yang panjang
esok lusa, bila-bila Dia hadirkan lagi kisah yang menduga langkah lurusmu
namun usah terus berhenti bila kau rebah,
duduklah sebentar
meneduk air nan sejuk
menyembuh luka
menghirup semangat baru
menghela nafas lalu...
Subscribe to:
Posts (Atom)